Kamis, 23 Juni 2016

Kesulitan Penduduk Baru Rusunawa Jatinegara Kaum





Kesulitan Penduduk Baru Rusunawa Jatinegara Kaum


       
         Salbiah penghuni rusunawa mengatakan ”pada awal-awal saya dan keluarga sangat mengeluhkan keberadaan rusunawa yang sangat jauh dari tempat kerja anak saya, tempat tinggal saya awalnya jaraknya tidak jauh dengan tempat kerja anak saya, tetapi saat saya pindah ke rusunawa, jarak tempat kerja dengan rusunawa menjadi jauh” ibu salbiah merasa jauh juga dengan para saudara yang sebelumnya tinggal di waduk ria-rio kampung pedongkelan. Padahal surat rumahnya sudah lengkap, tetapi petugas dki tetap menertibkan bangunan yang berada wadukria-rio.  
          Salbiah juga mengatakan bahwa dia banyak mendapat teman dan saudara baru di Rusunawa Jatinegara Kaum ini dan juga jarak tempat tinggal bu salbiah yang sekarang sangat dekat dengan stasiun dan juga pasar “disini saya dapet teman dan saudara baru, yang dulu saya kurang begitu kenal pas di waduk ria-rio, sekarang jadi lebih kenal dan deket. Mau keman-mana juga sekarang sudah enak lah, pasar sama stasiun deket banget, ini mah kepleset juga sampe” memang untuk bu salbiah kondisi ini menguntungkan juga karena dekat mau belanja ataupun pergi kemana-kemana, tetapi dari semua itu tentu ada dampak negatif juga.
          Kepala Dinas Perumahan dan Gedung DKI Jakarta Yonathan Pasodung mengatakan “masalah jarak kami sudah siapkan bus sekolah untuk para anak-anak yang sekolahnya berjarak jauh dengan rusunawa dan bus sekolah itu pun juga gratis, jadi anak sekolah tidak usah takut mengenai jarak dan juga biaya” kami juga sudah memikirkan hal tersebut dengan pak gubernur juga para warga baru yang akan menenempati rusunawa jatinegara kaum.
            Menurut penuturan pengamat perkotaan Marco Kusunawijaya, masalah utama ruang kota Jakarta terletak pada perencanaan yang tidak transparan. “seharusnya seluruh peralihan fungsi tata ruang dilakukan dengan melakukan konsultasi bersama masyarakat bukan keputusan sepihak saja. Beliau menambahkan “kalau mau membuat tata ruang yang benar-benar terbuka itu harus berhadapan dengan aspirsi masyrakat dan itu sangat banyak sekali, dibutuhkan keberanian, bukan berani untuk marah-marah, tetapi berani untuk mendengar aspirasi masyarakat dan juga menjaga hubungan baik dengan masyrakat”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar