Jumat, 24 Juni 2016

Punahnya Mental Generasi Muda






Punahnya Mental Generasi Muda


                Siapa yang menyangka bahwa perilaku adalah hal terpenting dalam hidup manusia selain kecerdasan dan juga kemauan. Perilaku anak zaman sekarang sangat memprihatinkan sekali, berbeda jauh dengan kita yang anak dulu. Kenapa bisa terjadi seperti itu?  Beban pelajar saat ini lebih berat dari pada pelajar pada jaman dulu. Jumlah jam perminggu lebih banyak tetapi jumlah mata pelajaran lebih sedikit, berbeda dengan jaman dulu yang jumlah pelajaran lebih sedikit sehingga waktu untuk istirahat lebih banyak.
                Jaman dulu guru yang berkuasa, guru memegang kendali murid-murid untuk dibentuk akhlak dan juga kemampuannya. Sekarang guru sudah tidak mempunyai kekuatan seperti itu lagi, kenapa begitu? Ya.. dulu jaman saya guru-guru sangat tegas sekali mengajar para muridnya di sekolah, ada murid yang melawan ataupun bandel di hukum oleh guru dan itu sangat berhasil dalam membentuk kepribadian murid tersebut. Berbeda jauh dengan jaman sekarang, guru hanya menasihati dengan lemah lembut saja dibilang mengkasari murid, padahal dijaman dulu hal seperti itu malahan mustahil terjadi.
                Guru pada jaman dulu killer-killer tapi dengan metode belajar tersebut, muridnya pun banyak yang menjadi orang sukses karena berkat metode seperti itu akhirnya mental si murid menjadi terbentuk dan juga mereka menjadi termotivasi untuk giat belajar. Berbeda dengan kondisi saat ini, kalau ada guru killer yang menggunakan metode belajar seperti itu, hmmmm.... udah pasti dah bakalan di laporin sama polisi ataupun perlindungan anak.
                Jaman dulu itu kalo kita diomelin guru, dihukum oleh guru lalu kita mengadu ke orang tua kita. Bukannya di belain, tapi malah makin diomelin dan ditambah hukumannya. Kenapa seperti itu? Karena orang tua dulu sudah mempercayai guru yang mendidik anaknya disekolah, jadi kalo anaknya dihukum oleh gurunya, sudah pasti anak itu berbuat salah dan guru berhak memberi hukuman. Beda banget sama jaman sekarang dah. Jaman sekarang mah apa-apa lapor ke polisi, guru ngomel dikit aja trus muridnya ngadu ke orang tuanya dan orang tuanya lapor ke komisi perlindungan anak. Bener-bener lebay dah anak jaman sekarang, ini yang disebut mental ayam sayur.
                 
                Dengan adanya hak asasi manusia (HAM) malahan membuat para murid dan orang tua jadi semena-semana dengan guru. Mereka tidak tau bagaimana kondisi guru di Indonesia dengan kondisi guru di luar negeri. Guru di indonesia kalah gajinya sama artis, guru yang tugasnya membentuk akhlak murid dan juga mencerdaskan murid kalah dengan artis yang merusak moral anak bangsa dan juga membuat bodoh anak bangsa. Ironis memang di negara sebesar ini, yang berbuat baik tidak dihargai dan sebaliknya yang berbuat keburukan justru dihargai dengan bilangan nominal yang sangat besar.
               Makanya tak heran pada jaman sekarang banyak sekali bermunculan acara televisi yang menayangkan soal percintaan anak dibawah umur, dulu mah gak ada acara begituan. Boro-boro mau nonton tv, jaman dulu mah kita fokus belajar buat masa depan yang lebih baik. Gimana gak fokus, orang dulu aja tv itu masih jarang dan yang punya juga orang kaya, orang kecil mah gak pada punya tv pas jaman itu, fokus belajar sama ngaji aja dah. Justru generasi jaman dulu lah yang banyak mencetak orang-orang sukses, karena mereka punya tujuan dan juga belom terkontaminasi dengan budaya luar yang saat ini telah terjadi dikalangan generasi muda.
                
               Venia Aprelia salah satu mahasiswi lulusan UNJ mengatakan bahwa perilaku anak jaman sekarang sudah keluar dari jalur yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Jaman ketika saya sekolah dulu datang terlambat saja malu dan juga takut kena hukuman oleh guru, tapi pada jaman sekarang murid yang datang terlambat tidak merasa malu dan juga takut akan mendapat hukuman, karena mereka sudah tau kalau guru mereka berbuat yang tindakan yang tidak baik kepada mereka, mereka akan mengadukan ke orang tuanya dan orang tua jaman sekarang pun lebih membela anaknya dibanding mereka mempercayai guru yang mengajari anaknya disekolah.

                Itu baru datang terlambat, ini tugas. Jaman dulu saya sekolah yang namanya tugas itu harus dikumpulin tepat waktu trus minta paraf orang tua dan kalau gak kumpulin bakal kena hukuman, nah, jaman sekarang mah gak ngerjain tugas santai aja, kalo dihukum sama guru ya tinggal bilangin ke orang tuanya aja. Mental seperti ini yang akan menjadikan generasi muda rusak, rusak secara perilaku dan juga rusak secara kecerdasan atau kemampuan, ungkap Venia.

                Saya berharap kedepannya pemerintah lebih mendukung lagi para guru, bagaimanapun guru adalah pahlawan, mereka yang membuat para pemimpin kita saat ini menjadi pibadi yang baik dan juga pemimpin yang cerdas. Karena guru itu pahlawan tanpa jasa, mereka rela dibayar sedikit atau bahkan tidak dibayar, asalkan generasi muda dapat menjadi orang yang sukses dimasa yang akan datang. Stop perlakukan guru dengan tidak adil, kedepannya pemerintah dan guru harus saling merangkul agar tercipta generasi muda keemasan, ujar Venia yang diwawancari di kampus UNJ

                Alawi KABAG DIKMENTAL juga mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia harus segera dibenahi, terutama persoalan akhlak yang sangat utama. “saya sangat sedih melihat generasi muda sekarang, mereka sudah dibutakan dengan teknologi dan juga tayangan-tayangan yang kurang mendidik untuk mereka. Seharusnya dengan teknologi mereka dapat menjadi lebih cerdas lagi dibanding jaman ketika saya sekolah dulu, tetapi malah sebaliknya, mereka jadi pemalas karena dibutakan dengan teknologi”. 

                Makanya saya dengan rekan-rekan kerja di DIKMENTAL mempunyai tujuan ini membuat generasi muda menjadi generasi yang unggul, tidak hanya unggul dalam kepintaran, tetapi juga dalam akhlak yang terpuji juga. Karena komplemen penting dalam kehidupan manusia adalah akhlak yang terpuji, ketika kerja nanti bukan hanya sekedar kemampuan saja yang dinilai, tetapi juga akhlak kita dinilai oleh pemimpin kita. Sama halnya dengan kehidupan kita di lingkungan masyarakat, tidak hanya kepandaian kita saja yang dipakai, tetapi akhlak kita juga dipakai dalam kehidupan bermasyrakat.

                "Saya berharap kedepannya generasi muda Indonesia menjadi generasi yang unggul, tidak hanya unggul secara pengetahuan, tetapi juga mempunyai akhlak yang terpuji" ungkap pak Alwi yang diwawancari dikantor Walikota Jakarta Timur.





Punahnya Mental Generasi Muda






Punahnya Mental Generasi Muda


                Siapa yang menyangka bahwa perilaku adalah hal terpenting dalam hidup manusia selain kecerdasan dan juga kemauan. Perilaku anak zaman sekarang sangat memprihatinkan sekali, berbeda jauh dengan kita yang anak dulu. Kenapa bisa terjadi seperti itu?  Beban pelajar saat ini lebih berat dari pada pelajar pada jaman dulu. Jumlah jam perminggu lebih banyak tetapi jumlah mata pelajaran lebih sedikit, berbeda dengan jaman dulu yang jumlah pelajaran lebih sedikit sehingga waktu untuk istirahat lebih banyak.
                Jaman dulu guru yang berkuasa, guru memegang kendali murid-murid untuk dibentuk akhlak dan juga kemampuannya. Sekarang guru sudah tidak mempunyai kekuatan seperti itu lagi, kenapa begitu? Ya.. dulu jaman saya guru-guru sangat tegas sekali mengajar para muridnya di sekolah, ada murid yang melawan ataupun bandel di hukum oleh guru dan itu sangat berhasil dalam membentuk kepribadian murid tersebut. Berbeda jauh dengan jaman sekarang, guru hanya menasihati dengan lemah lembut saja dibilang mengkasari murid, padahal dijaman dulu hal seperti itu malahan mustahil terjadi.
                Guru pada jaman dulu killer-killer tapi dengan metode belajar tersebut, muridnya pun banyak yang menjadi orang sukses karena berkat metode seperti itu akhirnya mental si murid menjadi terbentuk dan juga mereka menjadi termotivasi untuk giat belajar. Berbeda dengan kondisi saat ini, kalau ada guru killer yang menggunakan metode belajar seperti itu, hmmmm.... udah pasti dah bakalan di laporin sama polisi ataupun perlindungan anak.
                Jaman dulu itu kalo kita diomelin guru, dihukum oleh guru lalu kita mengadu ke orang tua kita. Bukannya di belain, tapi malah makin diomelin dan ditambah hukumannya. Kenapa seperti itu? Karena orang tua dulu sudah mempercayai guru yang mendidik anaknya disekolah, jadi kalo anaknya dihukum oleh gurunya, sudah pasti anak itu berbuat salah dan guru berhak memberi hukuman. Beda banget sama jaman sekarang dah. Jaman sekarang mah apa-apa lapor ke polisi, guru ngomel dikit aja trus muridnya ngadu ke orang tuanya dan orang tuanya lapor ke komisi perlindungan anak. Bener-bener lebay dah anak jaman sekarang, ini yang disebut mental ayam sayur.
                 
                Dengan adanya hak asasi manusia (HAM) malahan membuat para murid dan orang tua jadi semena-semana dengan guru. Mereka tidak tau bagaimana kondisi guru di Indonesia dengan kondisi guru di luar negeri. Guru di indonesia kalah gajinya sama artis, guru yang tugasnya membentuk akhlak murid dan juga mencerdaskan murid kalah dengan artis yang merusak moral anak bangsa dan juga membuat bodoh anak bangsa. Ironis memang di negara sebesar ini, yang berbuat baik tidak dihargai dan sebaliknya yang berbuat keburukan justru dihargai dengan bilangan nominal yang sangat besar.
               Makanya tak heran pada jaman sekarang banyak sekali bermunculan acara televisi yang menayangkan soal percintaan anak dibawah umur, dulu mah gak ada acara begituan. Boro-boro mau nonton tv, jaman dulu mah kita fokus belajar buat masa depan yang lebih baik. Gimana gak fokus, orang dulu aja tv itu masih jarang dan yang punya juga orang kaya, orang kecil mah gak pada punya tv pas jaman itu, fokus belajar sama ngaji aja dah. Justru generasi jaman dulu lah yang banyak mencetak orang-orang sukses, karena mereka punya tujuan dan juga belom terkontaminasi dengan budaya luar yang saat ini telah terjadi dikalangan generasi muda.
                
               Venia Aprelia salah satu mahasiswi lulusan UNJ mengatakan bahwa perilaku anak jaman sekarang sudah keluar dari jalur yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Jaman ketika saya sekolah dulu datang terlambat saja malu dan juga takut kena hukuman oleh guru, tapi pada jaman sekarang murid yang datang terlambat tidak merasa malu dan juga takut akan mendapat hukuman, karena mereka sudah tau kalau guru mereka berbuat yang tindakan yang tidak baik kepada mereka, mereka akan mengadukan ke orang tuanya dan orang tua jaman sekarang pun lebih membela anaknya dibanding mereka mempercayai guru yang mengajari anaknya disekolah.

                Itu baru datang terlambat, ini tugas. Jaman dulu saya sekolah yang namanya tugas itu harus dikumpulin tepat waktu trus minta paraf orang tua dan kalau gak kumpulin bakal kena hukuman, nah, jaman sekarang mah gak ngerjain tugas santai aja, kalo dihukum sama guru ya tinggal bilangin ke orang tuanya aja. Mental seperti ini yang akan menjadikan generasi muda rusak, rusak secara perilaku dan juga rusak secara kecerdasan atau kemampuan, ungkap Venia.

                Saya berharap kedepannya pemerintah lebih mendukung lagi para guru, bagaimanapun guru adalah pahlawan, mereka yang membuat para pemimpin kita saat ini menjadi pibadi yang baik dan juga pemimpin yang cerdas. Karena guru itu pahlawan tanpa jasa, mereka rela dibayar sedikit atau bahkan tidak dibayar, asalkan generasi muda dapat menjadi orang yang sukses dimasa yang akan datang. Stop perlakukan guru dengan tidak adil, kedepannya pemerintah dan guru harus saling merangkul agar tercipta generasi muda keemasan, ujar Venia yang diwawancari di kampus UNJ

                Alawi KABAG DIKMENTAL juga mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia harus segera dibenahi, terutama persoalan akhlak yang sangat utama. “saya sangat sedih melihat generasi muda sekarang, mereka sudah dibutakan dengan teknologi dan juga tayangan-tayangan yang kurang mendidik untuk mereka. Seharusnya dengan teknologi mereka dapat menjadi lebih cerdas lagi dibanding jaman ketika saya sekolah dulu, tetapi malah sebaliknya, mereka jadi pemalas karena dibutakan dengan teknologi”. 

                Makanya saya dengan rekan-rekan kerja di DIKMENTAL mempunyai tujuan ini membuat generasi muda menjadi generasi yang unggul, tidak hanya unggul dalam kepintaran, tetapi juga dalam akhlak yang terpuji juga. Karena komplemen penting dalam kehidupan manusia adalah akhlak yang terpuji, ketika kerja nanti bukan hanya sekedar kemampuan saja yang dinilai, tetapi juga akhlak kita dinilai oleh pemimpin kita. Sama halnya dengan kehidupan kita di lingkungan masyarakat, tidak hanya kepandaian kita saja yang dipakai, tetapi akhlak kita juga dipakai dalam kehidupan bermasyrakat.

                "Saya berharap kedepannya generasi muda Indonesia menjadi generasi yang unggul, tidak hanya unggul secara pengetahuan, tetapi juga mempunyai akhlak yang terpuji" ungkap pak Alwi yang diwawancari dikantor Walikota Jakarta Timur.





Pencak Silat Menuju Olimpiade



Pencak Silat Menuju Olimpiade

          Pencak silat budaya bangsa, semboyan ini lah yang selalu di nyanyikan oleh bangsa indonesia pada setiap event pencak silat. Bagaimana tidak, pencak silat yang awalnya bela diri rakyat kecil atau kaum budak pada saat zaman penjajahan Belanda, kini sudah berubah menjadi bela diri semua kalangan tanpa terkecuali anak kecil. Pada jaman Belanda pencak silat tidak bisa berkembang sama sekali, karena pada pemerintahan Belanda semua orang indonesia yang belajar bela diri harus dibunuh, karena akan membahayakan pihak Belanda. Membahayakan seperti apa? Kalau mereka belajar bela diri, nantinya mereka akan berani melawan Belanda.
            Makanya pada zaman VOC di setiap pesantren pasti ada bela diri pencak silat, selain untuk membela diri dan juga keluarga, pada zaman itu pencak silat pun dianggap dapat melawan para penjajah Belanda. Tapi bukan hal yang mudah juga untuk belajar pencak silat pada zaman Belanda, walaupun dipesantren sudah ada. Mereka yang belajar pencak silat harus latihan di tengah hutan pada waktu tengah malam. Kenapa mereka lakukan hal itu? Supaya mata-mata VOC tidak melihat, kalau mata-mata VOC melihat ada orang indonesia yang belajar pencak silat, maka akan ditangkap dan juga di bunuh oleh pemerintah Belanda.
            Sudah banyak para pendekar pencak silat yang berhasil mengalahkan para penjajah dan sudah banyak juga para pendekar yang mati sia-sia karena di adu domba oleh para penjajah. Bagaimana bisa? Yaa.. pada zaman VOC semua pendekar pencak silat dibunuh satu persatu oleh centeng-centeng Belanda, mereka memberikan imbalan kepada pendekar pencak silat juga dengan catatan berhasil membunuh pendekar yang melawan pemerintahan Belanda pada saat itu. Seharusnya kalau mereka sadar,punya hati, pasti para pendekar tidak akan saling bunuh membunuh hanya untuk mendapatkan imbalan tetapi negara mereka dijajah oleh negara lain. Miris memang melihat para jawara pencak silat yang mati sia-sia karena di adu domba dan juga dibayar dengan koin emas. Andai saja mereka tidak diadu domba oleh Belanda, pasti negara kita sudah merdeka sejak lama, tanpa harus menunggu sampai  17 agustus 1945.
            Setelah rezim kekuaasan Belanda runtuh selama 3,5 abad lamanya, barulah pencak silat di indonesia maju dengan masuknya Jepang. Jepang bukan tanpa alasan masuk ke indonesia, mereka ingin mencari dukungan kepada bangsa Indonesia untuk melawan para sekutu mereka, sampai akhirnya pemerintah Jepang membebaskan bela diri pencak silat untuk berkembang dan maju di Indonesia. Tapi tidak sampai disitu saja, Jepang mempunyai syarat yang harus dijalankan oleh pemerintah Indonesia pada saat itu jikalau ingin pencak silat berkembang dan maju. Apa syaratnya? Syaratnya ialah setiap pendekar yang ada pada perguruan silat itu nantinya harus mengikuti wajib militer guna mempertahankan negara Indonesia. Padahal itu hanya siasat Jepang agar dapat mendapat dukungan ketika melawan sekutu.
            Di jaman Jepang mulai banyak perguruan pencak silat yang lahir, yang tadinya hanya beberapa saja pada saat pemerintahan Belanda, saat pemerintahan Jepang menjadi banyak sekali. Kalau kata kita sekarang mah kaya aji mumpung gitu lah. Jepang akhirnya di pukul mundur oleh bangsa Indonesia, mereka akhirnya mengetahui siasat busuk yang dilakukan oleh pemerintah Jepang kepada bangsa Indoesia yang awalnya mereka bilang ingin membantu memerdekakan Indonesia. 3,5 tahun lamanya Jepang menjajah, sangat lama dan bahkan lebih lama dari pada Belanda. Kenapa begitu? Karena pada jaman penjajahan Jepang lah bangsa Indonesia benar-benar merasakan kesengsaraan yang luar biasa. Salah satunya adalah Romusha atau bangsa indonesia yang dijadikan pekerja paksa oleh Jepang.
            Tetapi masa kelam itu sudah berlalu, sudah 71 tahun Indonesia merdeka dan sudah selama itu pula pencak silat semakin maju dari waktu ke waktu. Pada tahun 1987 lah akhirnya pencak silat di pertandingan pada ajang terbesar Sea Games XIV di Busan Korea Selatan. Seni bela diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura, Filipina selatan, dan Thailand selatan sesuai dengan penyebaran suku bangsa Melayu Nusantara. Berkat peranan para pelatih asal Indonesia, kini Vietnam juga telah memiliki pesilat-pesilat yang tangguh.
             Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Organisasi yang mewadahi federasi-federasi pencak silat di berbagai negara adalah Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa (Persilat), yang dibentuk oleh Indonesia, Singapura (PERSISI), Malaysia (PESAKA)dan Brunei Darussalam. Dari PERSILAT ini lah yang akhirnya membuat pencak silat dapat ikut serta dalam ajang Sea Games. Lalu apakah pencak silat bisa sampai ke Olimpiade? Yaa tentu saja bisa. Bang Sarbini selaku Ketua IPSI Jakarta Pusat mengatakan bahwa pencak silat dapat ikut serta dalam gelaran olimpiade.
            Bang Sarbini sangat yakin kalau nantinya pencak silat akan dapat menjadi salah satu olahraga yang dipertandingkan pada gelaran olimpiade. Asalkan negara peserta olimpiade setuju kalau pencak silat masuk sebagai cabang olahraga yang akan dipertandingkan. “Kalau dulu kan waktu  mau sea games syaratnya negara asia harus mengakui dan mau menerima pencak silat sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan, makanya dibentuklah PERSILAT itu. Nah kalau sekarang juga bisa dibentuk organisasi pencak silat dunia agar pencak silat dapat dipertandingkan di olimpiade” ungkap Bang Sarbini.
            Tak jauh beda dengan Bang Mamay selaku pelatih pencak silat, ia mengatakan bahwa pencak silat dapat ikut dalam pagelaran olimpiade nantinya, asalkan pemerintah Indonesia mendukung dan juga negara peserta olimpiade mendukung juga. Bang Mamay mengatakan bahwa Indonesia selalu siap dalam ajang apapun pada setiap kejuaraan pencak silat, baik itu kejuaraan Nasional maupun Internasional semisal Sea Games. “ya kalau saya sih selalu percaya sama atlit saya, karena mereka sudah banyak berlatih,jam terbang juga udah sangat mumpuni lah kalau mau bertanding pada event sebesar olimpiade”.
            Selain itu juga, Bang Mamay menambahkan bahwa resep keberhasilan para atlit pencak silat Indonesia menjuarai sea games tak terlepas dari peran pemerintah yang mendukung mereka dalam bernading dan juga mereka merasa bangga serta mempunyai tanggung jawab yang besar karena membela negara Indonesia. “saya sangat senang dengan dukungan yang diberikan oleh pemerintah kepada para atlit yang bernading, mereka menjadi bersemangat dan percaya diri. Apalagi mereka ada rasa kebanggan yang sangat tinggi karena membela Indonesia, jadinya mereka bisa dapet hasil yang membanggakan buat negara yaitu menjadi juara”.
            Yang terpenting adalah peran pemerintah disini untuk terus mendukung pencak silat agar dapat menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan pada pagelaran olimpiade kedepannya. Selain mendukung secara moral, dukungan finansial juga utama karena untuk terciptanya atlit-atlit berprestasi yang nantinya akan membuat bangga negara Indonesia.