Punahnya Mental Generasi Muda
Siapa yang menyangka bahwa perilaku adalah hal terpenting
dalam hidup manusia selain kecerdasan dan juga kemauan. Perilaku anak zaman
sekarang sangat memprihatinkan sekali, berbeda jauh dengan kita yang anak dulu.
Kenapa bisa terjadi seperti itu? Beban pelajar
saat ini lebih berat dari pada pelajar pada jaman dulu. Jumlah jam perminggu lebih
banyak tetapi jumlah mata pelajaran lebih sedikit, berbeda dengan jaman dulu
yang jumlah pelajaran lebih sedikit sehingga waktu untuk istirahat lebih
banyak.
Jaman
dulu guru yang berkuasa, guru memegang kendali murid-murid untuk dibentuk
akhlak dan juga kemampuannya. Sekarang guru sudah tidak mempunyai kekuatan
seperti itu lagi, kenapa begitu? Ya.. dulu jaman saya guru-guru sangat tegas
sekali mengajar para muridnya di sekolah, ada murid yang melawan ataupun bandel
di hukum oleh guru dan itu sangat berhasil dalam membentuk kepribadian murid
tersebut. Berbeda jauh dengan jaman sekarang, guru hanya menasihati dengan
lemah lembut saja dibilang mengkasari murid, padahal dijaman dulu hal seperti
itu malahan mustahil terjadi.
Guru pada jaman dulu
killer-killer tapi dengan metode belajar tersebut, muridnya pun banyak yang
menjadi orang sukses karena berkat metode seperti itu akhirnya mental si murid
menjadi terbentuk dan juga mereka menjadi termotivasi untuk giat belajar. Berbeda
dengan kondisi saat ini, kalau ada guru killer yang menggunakan metode belajar
seperti itu, hmmmm.... udah pasti dah bakalan di laporin sama polisi ataupun
perlindungan anak.
Jaman dulu
itu kalo kita diomelin guru, dihukum oleh guru lalu kita mengadu ke orang tua
kita. Bukannya di belain, tapi malah makin diomelin dan ditambah hukumannya. Kenapa
seperti itu? Karena orang tua dulu sudah mempercayai guru yang mendidik anaknya
disekolah, jadi kalo anaknya dihukum oleh gurunya, sudah pasti anak itu berbuat
salah dan guru berhak memberi hukuman. Beda banget sama jaman sekarang dah. Jaman
sekarang mah apa-apa lapor ke polisi, guru ngomel dikit aja trus muridnya ngadu
ke orang tuanya dan orang tuanya lapor ke komisi perlindungan anak. Bener-bener
lebay dah anak jaman sekarang, ini yang disebut mental ayam sayur.
Dengan adanya
hak asasi manusia (HAM) malahan membuat para murid dan orang tua jadi
semena-semana dengan guru. Mereka tidak tau bagaimana kondisi guru di Indonesia
dengan kondisi guru di luar negeri. Guru di indonesia kalah gajinya sama artis,
guru yang tugasnya membentuk akhlak murid dan juga mencerdaskan murid kalah
dengan artis yang merusak moral anak bangsa dan juga membuat bodoh anak bangsa.
Ironis memang di negara sebesar ini, yang berbuat baik tidak dihargai dan
sebaliknya yang berbuat keburukan justru dihargai dengan bilangan nominal yang
sangat besar.
Makanya
tak heran pada jaman sekarang banyak sekali bermunculan acara televisi yang
menayangkan soal percintaan anak dibawah umur, dulu mah gak ada acara begituan.
Boro-boro mau nonton tv, jaman dulu mah kita fokus belajar buat masa depan yang
lebih baik. Gimana gak fokus, orang dulu aja tv itu masih jarang dan yang punya
juga orang kaya, orang kecil mah gak pada punya tv pas jaman itu, fokus belajar
sama ngaji aja dah. Justru generasi jaman dulu lah yang banyak mencetak
orang-orang sukses, karena mereka punya tujuan dan juga belom terkontaminasi
dengan budaya luar yang saat ini telah terjadi dikalangan generasi muda.
Venia
Aprelia salah satu mahasiswi lulusan UNJ mengatakan bahwa perilaku anak jaman
sekarang sudah keluar dari jalur yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Jaman ketika
saya sekolah dulu datang terlambat saja malu dan juga takut kena hukuman oleh
guru, tapi pada jaman sekarang murid yang datang terlambat tidak merasa malu
dan juga takut akan mendapat hukuman, karena mereka sudah tau kalau guru mereka
berbuat yang tindakan yang tidak baik kepada mereka, mereka akan mengadukan ke
orang tuanya dan orang tua jaman sekarang pun lebih membela anaknya dibanding
mereka mempercayai guru yang mengajari anaknya disekolah.
Itu
baru datang terlambat, ini tugas. Jaman dulu saya sekolah yang namanya tugas
itu harus dikumpulin tepat waktu trus minta paraf orang tua dan kalau gak
kumpulin bakal kena hukuman, nah, jaman sekarang mah gak ngerjain tugas santai
aja, kalo dihukum sama guru ya tinggal bilangin ke orang tuanya aja. Mental seperti
ini yang akan menjadikan generasi muda rusak, rusak secara perilaku dan juga
rusak secara kecerdasan atau kemampuan, ungkap Venia.
Saya
berharap kedepannya pemerintah lebih mendukung lagi para guru, bagaimanapun
guru adalah pahlawan, mereka yang membuat para pemimpin kita saat ini menjadi
pibadi yang baik dan juga pemimpin yang cerdas. Karena guru itu pahlawan tanpa
jasa, mereka rela dibayar sedikit atau bahkan tidak dibayar, asalkan generasi
muda dapat menjadi orang yang sukses dimasa yang akan datang. Stop perlakukan
guru dengan tidak adil, kedepannya pemerintah dan guru harus saling merangkul
agar tercipta generasi muda keemasan, ujar Venia yang diwawancari di kampus UNJ
Alawi
KABAG DIKMENTAL juga mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia harus segera dibenahi,
terutama persoalan akhlak yang sangat utama. “saya sangat sedih melihat
generasi muda sekarang, mereka sudah dibutakan dengan teknologi dan juga
tayangan-tayangan yang kurang mendidik untuk mereka. Seharusnya dengan
teknologi mereka dapat menjadi lebih cerdas lagi dibanding jaman ketika saya
sekolah dulu, tetapi malah sebaliknya, mereka jadi pemalas karena dibutakan
dengan teknologi”.
Makanya
saya dengan rekan-rekan kerja di DIKMENTAL mempunyai tujuan ini membuat
generasi muda menjadi generasi yang unggul, tidak hanya unggul dalam
kepintaran, tetapi juga dalam akhlak yang terpuji juga. Karena komplemen
penting dalam kehidupan manusia adalah akhlak yang terpuji, ketika kerja nanti
bukan hanya sekedar kemampuan saja yang dinilai, tetapi juga akhlak kita
dinilai oleh pemimpin kita. Sama halnya dengan kehidupan kita di lingkungan
masyarakat, tidak hanya kepandaian kita saja yang dipakai, tetapi akhlak kita
juga dipakai dalam kehidupan bermasyrakat.
"Saya berharap
kedepannya generasi muda Indonesia menjadi generasi yang unggul, tidak hanya
unggul secara pengetahuan, tetapi juga mempunyai akhlak yang terpuji" ungkap pak Alwi yang diwawancari dikantor Walikota Jakarta Timur.