Rabu, 18 Mei 2016

Kehidupan para pencari rejeki





Kehidupan Para Pencari Rejeki di Pasar Kebayoran Lama


Jakarta, 18 Mei  2016, para pencari rejeki diantaranya pedagang dan juru parkir mengeluhkan persoalan mengenai pembangunan jalan layang yang dipergunakan untuk Trans Jakarta. Tidak hanya itu, para pedagang dan juru parkirpun mengeluh dengan adanya razia yang dilakukan oleh Satpol PP.

            Pasar kebayoran lama, disinilah tempat para pedagang mencari rejeki dan juga juru parkir. Di tempat ini pula dilakukan proyek jalan layang untuk Trans Jakarta yang menurut sebagian pedagang mengganggu mereka dalam proses berjualan. Bukan itu saja, sering terjadinya razia yang dilakukan oleh Satpol PP dari Kecamatan Kebayoran Lama juga mempengaruhi omset dari pendapatan pedagang dam juga juru parkir.

            Jono (26) pedagang bakso yang hijrah ke jakarta untuk memperbaiki kehidupannya. Mas Jono yang sudah tinggal dijakarta 10 tahun lamanya baru berjualan bakso 1 bulan di pasar kebayoran lama, sebelumnya ia berjualan rujak manisan di Senayan City. Jono menuturkan bahwa kenapa ia beralih jualan karna meneruskan usaha dari abangnya yang sebelumnya sudah dahulu berjualan bakso di pasar kebayoran lama.

            Jono pun menuturkan bahwa penghasilan dari berjualan bakso dia selama di pasar tidak menentu, kadang untung, kadang balik modal dan bahkan kadang tidak laku. Saat ditanya berapa pendapatan mas Jono dalam berjulan sehari, ia mengatakan “pendapatan gak bisa ditaksir untuk pedagang”. Karna Jono sendiri berjualan bakso di pasar kebayoran lama mulai dari pukul 11.00 atau 12.00 sampai dengan dagangannya habis, kalau belum habis dia akan berjualan sampai malam.

            Karna razia dilakukan pada pagi hari mulai dari pukul 08.00-10.00. Selama berjualan di pasar kebayoran lama, mas jono belum pernah terkena razia yang dilakukan Satpol PP. Malahan dia terkena razia pada saat berjualan rujak manisan di Senayan City sampai gerobak dan juga dagangannya disitia oleh Satpol PP. Masalah ini lah yang dikeluhkan oleh pedagang seperti Jono, karna bagi seorang pedagang  kehidupan mereka itu bergantung pada daganganya.

            Tak beda jauh dengan penjaga parkir Triyanto (56). Bapak 1 anak ini sudah tinggal dijakarta selama 84 tahun dan sudah banyak bekerja dimana saja. Diantaranya pak Triyanto pernah bekerja sebagai Satpam pribadi di salah satu perumahan elit yang berada di Pondok Indah selama 10 tahun, pernah juga bekerja diyayasan hanya bertahan 3 bulan dan akhirnya keluar karna masalah pendapatan. Pada awalnya pak Triyanto bekerja sebagai penjaga parkir hanya hari Sabtu dan Minggu saja, tetapi karena pendapatannya lebih besar dari pekerjaan sebelumnya, akhirnya pak Triyono beralih menjadi penjaga parkir. 

            Penghasilan sehari dari bapak Triyono mencapai 150.000 dan itu sudah dibagi dengan 4 orang teman-temannya. Tapi dengan adanya proyek jembatan layang untuk Trans Jakarta penghasilan dari bapak Triyono menurun menjadi 100.000 perhari dan itu sudah dibagi dengan teman-teman seprofesinya. Pak Triyono mengatakan “dulu sebelum ada besi untuk jembatan ini, parkiran penuh sampai ke trotoar dan pendapatan saya banyak, tetapi sejak adanya besi jembatan yang ditaro ditrotoar tempat motor parkir, pendapatan saya jadi berkurang”. 

            Para pedagang dan juga juru parkir mengharapkan agar proyek pembangunan jalan layang Trans Jakarta segera cepat selesai, karna berdampak pada penghasilan mereka sehari-hari. Dan juga diharapkan para Satpol PP agar tidak terlalu sering mengadakan razia dan itu sangat berdampak pada penghasilan mereka juga.